Oleh : Rasid Yunus
KPMLhulondalo.com. Sejak tanggal 11 Juni hingga 19 Juli 2026 dunia olahraga dimanjakan oleh tontonan sepak bola piala dunia. Pembukaan pertama digelar pada 12 Juni 2026 di Stadion Azteca, Mexico Pukul 02.00 Wita. Berikutnya dilanjutkan di Kanada 13 Juni 2026 Pukul 02.00 Wita, dan Amerika Serikat 13 Juni 2026 Pukul 08.00 Wita.
Untuk menonton tayangan ulang atau mengikuti rangkaian pertandingan, dapat menggunakan siaran Televisi Republik Indonesia (TVRI) sebagai pemegang hak siar resmi di Indonesia.
Ada 48 negara yang mewakili benua bertanding pada perhelatan 4 tahunan ini. Masing-masing dari UEFA (Eropa) 16 negara (Prancis, Jerman, Inggris, Spanyol, Portugal, Turki, Swedia, Bosnia-Herzegovina, dan Republik Ceko.
Dari CAF (Afrika) 10 negara (Maroko, Senegal, Mesir, Aljazair, Pantai Gading, Ghana, Tunisia, Afrika Selatan, Cabo Varde, RD Kongo. AFC (Asia) mengirimkan 9 negara (Jepang, Korea Selatan, Iran, Arab Saudi, Australia, Qatar, Uzbekistan, Yordania, dan Irak.
CONMEBOL (Amerika Selatan) mengirimkan 6 negara (Brazil, Argentina, Uruguay, Kolombia, Ekuador, dan Paraguay. CONCACAF mengirim 6 negara (Amerika Serikat, Meksiko, Kanada, Panama, Haiti, dan Curacao. OFC (Oceania) mengirimkan 1 negara (Selandia Baru).
Untuk piala dunia 2026 berbeda dengan edisi sebelumnya karena diikuti oleh 48 negara yang terbagi menjadi 12 group, masing-masing group terdiri dari 4 tim. Berbeda dengan format lama yang memakai 32 tim atau negara dan 8 group.
Lagu resmi yang mengiringi piala dunia 2026 adalah “DNA” yang dibawakan oleh Andrea Bocelli dan bintang Korea EJAE, serta “Dai Dai” yang dinyayikan oleh Shakira bersama Burna Boy. Keduanya merupakan bagian dari album resmi FIFA Sound yang mencakup 18 lagu dari berbagai musisi global.
FIFA menyiapkan total anggaran komersial dan turnamen sebesar USD 13 miliar (siklus 2023-2026), termasuk alokasi rekor sebesar USD 871 juta (sekitar 14,3 triliun) khusus untuk hadiah dan dana persiapan 48 negara peserta. Dana peserta setiap negara menjadi USD 2,5 juta (RP 40,5 miliar) untuk membantu biaya operasional mereka.
Sementara keuntungan dari piala dunia 2026 diproyeksikan sekitar USD 13 miliar (lebih dari RP 200 triliun). Dari total tersebut, keuntungan bersih yang didapatkan FIFA diperkirakan menembus angka USD 11 miliar hingga USD 13 miliar (setara RP 192 triliun-RP 227 triliun).
Sepak bola piala dunia bukan hanya berbicara tentang berputarnya ekonomi yang menghasilkan uang triliunan rupiah, tapi lebih dari itu. Piala dunia merupakan impian tertinggi setiap pemain sepak bola di dunia. Apalagi membawa negara menjadi juara, tentu satu kebanggan yang sungguh luar biasa.
Euforia piala dunia melanda seluruh manusia di dunia, tak mengenal batas teritori negara. Bendera, atribut, dan berbagai asesoris negara peserta piala dunia menjadi target masyarakat penikmat sepak bola. Apalagi para pendukung yang mengidolakan pemain tertentu, atribut negara sang idola ini menjadi target mereka.
Sejenak isu-isu penting di dunia tenggelam, karena mayoritas masyarakat dunia terkosentrasi pada pertandingan sepak bola piala dunia, dan berharap negara yang didukung beroleh hasil maksimal (juara dunia tahun 2026).
Perang (Palestina vs Israel, Iran vs Amerika dan Israel yang melibatkan negara-negara teluk) , perang (Rusia vs Ukraina) dan isu-isu penting lainnya kurang menjadi bahan diskusi masyarakat.
Di Indonesia kondisi politik sepi dari pantauan masyarakat. Isu MBG, koperasi merah putih, ijazah palsu, pertanian, dan beberapa kasus korupsi yang menyeret mantan pejabat penting nampaknya berhenti sebentar.
Piala dunia bukan hanya bicara hobi, bakat, kompetisi, perputaran ekonomi, tetapi lebih dari itu. Sepak bola piala dunia merupakan pertaruhan rasa nasionalisme bagi pemain yang negaranya berhasil lolos pada kompetisi bergengsi ini.
Karena itu, tidaklah mengherankan ketika lagu kebangsaan dinyanyikan pada saat memulai pertandingan, tidak sedikit pemain meneteskan air mata, merasa terharu bahwa lagu kebangsaan mereka bisa dinyanyikan pada olahraga terakbar di dunia.
Bagi penikmat sepak bola yang negaranya tidak tampil dalam sepak bola piala dunia, mereka sangat antusias menikmati setiap pertandingan dengan cara memasang bendara di depan rumah sesuai dengan bendera negara dan pemain yang diidolakan. Berbagai atribut digunakan sebagai penegasan bahwa mereka mengidolakan negara dan pemain tertentu.
Terkait dengan penggunaan bendera dan atribut peserta negara piala dunia mendapat reaksi dari berbagai kalangan. Mereka berani menyimpulkan bahwa masyarakat yang memasang bendera negara lain di depan rumah dianggap tidak nasionalis.
Dalam sebuah pertemuan diskusi ilmiah, penulis menyaksikan dan mendengar ada salah seorang pembicara berani mengambil kesimpulan bahwa warga negara mengalami kemorosotan karakter nasionalis karena memasang bendera negara lain di depan rumah. Ini menjadi menarik karena term nasionalis seolah dihubungkan dengan bendera.
Secara epistemologi, banyak ahli yang mendefinisikan kata nasionalis. Hans Khun tahun 1955 mendefinisikan istilah nasionalis atau nasionalisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara-kebangsaan. Definisi ini terdapat dalam buku “Nasionalisme Arti dan Sejarahnya”.
Hans Khun menonjolkan kajiannya pada istilah nasionalisme sebagai sesuatu kekuatan aktif dalam sejarah manusia yang memiliki misi mengutamakan hak perseorangan yang ikut serta membentuk sifat kemanusiaan yang baik.
Sementara Freddy Kalidjernih tahun 2010 dalam bukunya “Studi Kewarganegaraan: Perspektif Sosiologikal dan Politikal” menguraikan bahwa istilah nasionalisme merupakan ideologi yang menekankan bangsa sebagai prinsip sentral dari organisasi politik dengan berbagai cita-cita dan tujuan.
Selain itu, Freddy Kalidjernih membagi nasionalisme menjadi beberapa segmen yaitu nasionalisme integral yang berarti antusiasme nasionalis yang intens, bahkan histerikal, yang menyerap identitas individu ke dalam bangsa.
Nasionalisme kultural yang berarti bentuk nasionalisme yang memberikan penekanan utama kepada regenerasi bangsa sebagai suatu peradaban yang khas. Nasionalisme etnik yang mengkaji ethnic nationalism dan ethno-nationalism.
Jika mengacu pada beberapa definisi konseptual tentang nasionalisme, maka ditemukan bahwa nasionalisme sifanya tidak kaku. Secara kultural, etnik, peradaban itu wajib, tapi secara fungsional nasionalisme mengacu pada kebermanfaatan kondisi kontekstual dan kebutuhan bangsa. Olehnya, segala sesuatu harus dilihat dalam sudat pandang yang dalam.
Hal yang sama berlaku pada orang yang mengidolakan pemain sepak bola dunia. Implikasi positifnya ialah pada konotasi mempelajari teknik, taktik, dan mental pemain yang diidolakan, kemudian menjadi bahan komparasi demi peningkatan prestasi olahraga sepak bola dalam negeri.
Kondisi seperti ini dilakukan oleh negara lain terhadap Indonesia. Semisal mantan pemain bulu tangkis Indonesia yang melatih di luar negeri. Dalam konteks itu, apakah negara yang menjadikan pelatih Indonesia melatih pemain mereka lalu diklaim mereka tidak nasionalis.
Juga pelatih sepak bola negara lain yang melatih klub maupun timnas Indonesia, kemudian kita berani menyimpulkan bahwa kita kehilangan rasa nasionalisme. Sesungguhnya hal demikian biasa dalam dunia olahraga demi kepentingan prestasi olahraga dalam negeri dan sebagai wujud nasionalisme di bidang olahraga.
Justru perlu mendapat perhatian serius adalah konsep dan faktual yang digambarkan oleh Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia” diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia tahun 2001.
Menurut Mochtar Lubis masyarakat Indonesia memiliki beberapa ciri diantaranya manusia hipokrit alias munafik. Lain di bibir lain di hati. Lain bicara lain pula tindakan. Hal ini bisa dibuktikan dengan deretan kasus yang terjadi di Indonesia terutama kasus penyelenggara negara (KKN).
Padahal jika diperhatikan, mereka-mereka yang terjerat kasus hukum rajin memasang bendera merah putih di depan rumah maupun kantor mereka. Setiap hari besar nasional rajin upacara, membaca teks pancsila dan UUD tahun 1945.
Nasionalisme merupakan konsistensi antara pikiran, perkataan, dan perbuatan demi kemajuan bangsa. Nasionalisme tidak terjebak pada formalitas sementara miskin substansi. Kita boleh bangga dengan perayaan yang dilaksanakan setiap hari besar nasional, tetapi belum tentu hal itu membuat bangsa ini jaya.
Mari bertanya pada diri, setelah perayaan tersebut apakah nilai-nilai juang The Founding Fathers meresap, membekas dalam diri, kemudian menjadi roh disetiap pengabdian kita dalam kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya itulah akar nasionalisme kita. Selamat menikmati piala dunia 2026. Jayalah bangsaku.

Posting Komentar